BerandaBerita/DaerahTahura Djuanda, Jelajah Hutan dan Jejak Sejarah di Utara Bandung

Tahura Djuanda, Jelajah Hutan dan Jejak Sejarah di Utara Bandung

Kopi Times | Bandung :
Tahura Djuanda menawarkan pengalaman berbeda di utara Bandung. Kawasan ini mempertemukan hutan, udara sejuk, aliran sungai, air terjun, serta jejak sejarah dalam satu kawasan wisata alam.

Bandung selama ini dikenal sebagai kota dengan kehidupan urban yang dinamis. Namun, perjalanan ke kawasan Dago Pakar membawa suasana yang berbeda. Semakin mendekati Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda atau Tahura Djuanda, pemandangan perkotaan perlahan berganti dengan pepohonan dan kawasan hijau.

Tahura Djuanda berada di kawasan Pakar, Dago, tepatnya di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Dari pusat Kota Bandung, perjalanan menuju kawasan ini dapat ditempuh sekitar 30 menit menggunakan kendaraan.

Begitu memasuki kawasan hutan, suasana perkotaan terasa semakin jauh. Pepohonan tumbuh rapat dan membentuk kanopi hijau di sepanjang jalur perjalanan.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

Udara yang sejuk berpadu dengan suara angin yang bergerak di antara dedaunan. Bagi pengunjung yang berjalan kaki, perjalanan tidak hanya menjadi cara untuk mencapai objek wisata, tetapi juga menjadi kesempatan menikmati suasana hutan.

Tahura Djuanda: Jelajah Hutan dan Jejak Sejarah di Utara Bandung
Tahura Djuanda memiliki luas ratusan hektare. Kawasan ini menjadi ruang konservasi yang memiliki beragam pepohonan/foto : Hery Buha Manalu/kopitimes
Hutan dan Kawasan Konservasi

Tahura Djuanda memiliki luas ratusan hektare. Kawasan ini menjadi ruang konservasi yang memiliki beragam pepohonan.

Selain fungsi konservasi, kawasan hutan tersebut juga memiliki peran sebagai daerah tangkapan air bagi wilayah Cekungan Bandung.

Karena itu, keberadaan Tahura Djuanda tidak hanya berkaitan dengan kegiatan wisata. Hutan di dalamnya menjadi bagian dari bentang alam yang memiliki fungsi lingkungan bagi kawasan sekitarnya.

Namun, daya tarik Tahura Djuanda tidak berhenti pada lanskap hijaunya.

Di balik pepohonan terdapat sejumlah peninggalan yang membawa pengunjung mengenali sejarah dari masa yang berbeda.

Tahura Djuanda: Jelajah Hutan dan Jejak Sejarah di Utara Bandung
Keberadaan Goa Jepang dan Goa Belanda membuat perjalanan di Tahura Djuanda memiliki dimensi yang berbeda./Hery Buha Manalu/kopitimes
Menyusuri Goa Jepang

Salah satu tujuan yang dapat ditemui dalam kawasan Tahura Djuanda adalah Goa Jepang.

Goa tersebut merupakan terowongan pertahanan militer yang dibangun oleh tentara pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II. Pembangunannya menggunakan tenaga kerja romusha.

Memasuki lorong Goa Jepang memberikan pengalaman yang berbeda dari perjalanan di dalam hutan. Cahaya dari luar berkurang ketika pengunjung masuk ke dalam terowongan.

Dinding batu yang lembap dan udara yang dingin menciptakan suasana yang kontras dengan kawasan hutan yang terang dan hijau di luar.

Dengan pendampingan pemandu lokal, lorong-lorong tersebut dapat ditelusuri sambil mengenali jejak sejarah yang terdapat di dalamnya.

Jejak Kolonial di Goa Belanda

Perjalanan kemudian dapat dilanjutkan menuju Goa Belanda.

Terowongan ini juga menyimpan cerita dari masa kolonial. Bangunan tersebut digunakan sebagai tempat perlindungan dan berkaitan dengan fasilitas pembangkit listrik tenaga air pada masa itu.

Keberadaan Goa Jepang dan Goa Belanda membuat perjalanan di Tahura Djuanda memiliki dimensi yang berbeda.

Pengunjung tidak hanya menemukan hutan dan lanskap pegunungan. Di dalam kawasan yang sama, terdapat peninggalan yang menghubungkan perjalanan dengan sejarah kolonial dan masa pendudukan Jepang.

Tahura Djuanda: Jelajah Hutan dan Jejak Sejarah di Utara Bandung
Pepohonan yang rimbun menjadi bagian utama pemandangan. Di sepanjang perjalanan, pengunjung juga dapat menemukan aliran sungai dan mendengar suara burung/Hery Buha Manalu/kopitimes
Menyusuri Jalur Hutan

Setelah mengenali peninggalan sejarah, perjalanan dapat dilanjutkan melalui jalur penjelajahan di kawasan hutan.

Pepohonan yang rimbun menjadi bagian utama pemandangan. Di sepanjang perjalanan, pengunjung juga dapat menemukan aliran sungai dan mendengar suara burung.

Suasana tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari kawasan perkotaan Bandung.

Berjalan kaki di jalur hutan memungkinkan pengunjung menikmati kawasan secara lebih perlahan. Setiap bagian perjalanan memperlihatkan perpaduan antara vegetasi, lanskap pegunungan, dan jalur yang membelah kawasan hijau.

Menikmati Suara Air Terjun

Tahura Djuanda juga memiliki sejumlah objek wisata air. Di antaranya Curug Dago, Curug Omas, Curug Kidang, dan Curug Lalay.

Aliran air tersebut bersumber dari Sungai Cikapundung dan melewati lanskap berbatu serta vegetasi yang rimbun.

Di sekitar air terjun, suara air menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan. Gemuruh air yang jatuh di antara bebatuan berpadu dengan suara angin dan kicauan burung.

Suasana itu memberikan jeda dari kebisingan dan aktivitas kehidupan kota.

Sensasi Melintasi Jembatan Gantung

Pengalaman menjelajah kawasan Tahura Djuanda juga dapat dilengkapi dengan melintasi jembatan gantung.

Dari atas jembatan, pengunjung dapat melihat pepohonan dari ketinggian. Bagi wisatawan yang menyukai aktivitas berjalan dan menjelajah, keberadaan jembatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan berjalan di jalur hutan biasa.

Perjalanan di Tahura Djuanda pada akhirnya mempertemukan beberapa unsur dalam satu kawasan.

Ada hutan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi dan daerah tangkapan air. Ada jalur penjelajahan yang membawa pengunjung masuk ke bentang alam pegunungan. Ada pula air terjun, sungai, jembatan gantung, serta peninggalan sejarah berupa Goa Jepang dan Goa Belanda.

Karena itu, Tahura Djuanda bukan sekadar ruang hijau di utara Bandung. Kawasan ini menghadirkan perjalanan yang mempertemukan alam, konservasi, rekreasi, dan sejarah.

Bagi pengunjung, perjalanan dapat dimulai dari pepohonan yang menaungi jalur hutan, berlanjut menuju lorong-lorong bersejarah, kemudian menyusuri aliran air dan kembali menikmati suasana hijau.

Di tengah kawasan Bandung yang terus bergerak, Tahura Djuanda menawarkan ruang untuk berjalan lebih pelan sambil mengenali alam dan jejak sejarah yang berada dalam satu kawasan. (Red/Hery Buha Manalu)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini