BerandaEkonomi/BisnisBI Pantau Risiko Eksternal, Kewajiban Neto PII Indonesia Turun

BI Pantau Risiko Eksternal, Kewajiban Neto PII Indonesia Turun

Kopi Times – Bank Indonesia (BI) terus memantau risiko eksternal di tengah membaiknya posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan II 2026. Kewajiban neto PII Indonesia turun menjadi US$197,4 miliar pada akhir triwulan II 2026 dari US$223,0 miliar pada akhir triwulan I 2026.

Penurunan kewajiban netoneto tersebut menunjukkan perubahan pada posisi aset dan kewajiban finansial Indonesia terhadap luar negeri. Posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) menurun, sedangkan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) meningkat.

Bank Indonesia menilai perkembangan PII Indonesia pada triwulan II 2026 masih terjaga dan mendukung ketahanan eksternal. Namun, dinamika ekonomi global tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi perkembangan PII Indonesia ke depan.

Pada akhir triwulan II 2026, posisi KFLN Indonesia tercatat sebesar US$769,0 miliar. Nilai tersebut turun 1,9 persen secara triwulanan dari US$783,7 miliar pada akhir triwulan I 2026.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

Di tengah penurunan tersebut, aliran masuk modal asing melalui investasi langsung dan investasi portofolio tetap berlanjut.

Investasi langsung dan investasi portofolio masih mencatat surplus. Kondisi ini mencerminkan tetap terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik, inflasi yang terjaga, serta imbal hasil investasi yang menarik.

Namun, perkembangan KFLN juga dipengaruhi oleh perubahan nilai instrumen keuangan domestik. Faktor revaluasi harga dan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah, turut memengaruhi posisi tersebut.

Sementara itu, posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) Indonesia justru mengalami peningkatan.

AFLN tercatat sebesar US$571,5 miliar pada akhir triwulan II 2026. Angka tersebut naik 1,9 persen dibandingkan US$560,7 miliar pada akhir triwulan I 2026.

Sebagian besar komponen AFLN mengalami peningkatan. Kenaikan terutama terjadi pada aset investasi lainnya, investasi langsung, dan investasi portofolio.

Peningkatan AFLN tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong penurunan kewajiban neto PII Indonesia pada triwulan II 2026.

Perkembangan PII juga tercermin dari rasio PII Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada triwulan II 2026, rasio tersebut berada pada 13,3 persen. Angka ini turun dari 15,2 persen pada triwulan I 2026.

Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia masih didominasi instrumen berjangka panjang, terutama dalam bentuk investasi langsung.

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam melihat ketahanan eksternal Indonesia.

Meskipun posisi kewajiban neto PII menurun, Bank Indonesia tetap mencermati perkembangan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi prospek PII Indonesia.

BI juga akan terus memperkuat respons bauran kebijakan melalui sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia.

Selain itu, Bank Indonesia akan memantau potensi risiko yang berkaitan dengan kewajiban neto PII terhadap perekonomian.

Dengan demikian, penurunan kewajiban neto PII pada triwulan II 2026 tidak berarti risiko eksternal telah sepenuhnya hilang. BI tetap menempatkan perkembangan ekonomi global dan potensi dampaknya terhadap perekonomian Indonesia sebagai bagian penting dalam pemantauan ke depan.

Informasi lebih lengkap mengenai perkembangan PII Indonesia tersedia dalam Laporan Posisi Investasi Internasional Indonesia Triwulan II 2026 di situs Bank Indonesia. (Red/*)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini