BerandaSuara Anak NegeriPembayaran Digital Mendorong Transformasi Ekonomi, Kopi, dan Pariwisata Sumatera Utara

Pembayaran Digital Mendorong Transformasi Ekonomi, Kopi, dan Pariwisata Sumatera Utara

Oleh :  Hery Buha Manalu
Bandung – Perkembangan sistem pembayaran nontunai di Sumatera Utara menunjukkan bahwa digitalisasi ekonomi semakin masuk ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pembayaran yang sebelumnya sangat bergantung pada uang tunai kini semakin banyak dilakukan melalui QRIS, kartu debit dan kredit, uang elektronik, serta layanan transfer digital. Perubahan tersebut bukan sekadar perpindahan dari uang kertas ke layar telepon genggam. Lebih jauh, digitalisasi pembayaran mengubah cara masyarakat berbelanja, cara pelaku usaha menjalankan bisnis, dan bagaimana aktivitas ekonomi daerah bergerak.

Data Bank Indonesia menunjukkan, pada triwulan I 2026, sistem pembayaran nontunai di Sumatera Utara tetap tumbuh solid. Secara agregat, nominal transaksi kartu ATM/debit, kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik tumbuh 31 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Namun, pada saat yang sama, volume transaksi kelompok instrumen tersebut mengalami kontraksi 10,6 persen yoy.

Perbedaan antara nominal dan volume tersebut penting untuk dibaca secara hati-hati. Pertumbuhan nilai transaksi tidak otomatis berarti seluruh masyarakat semakin sering melakukan transaksi menggunakan instrumen tersebut. Bisa saja terdapat perubahan pola transaksi, termasuk meningkatnya nilai transaksi rata-rata pada kelompok instrumen tertentu. Dengan demikian, digitalisasi sistem pembayaran perlu dilihat bukan hanya dari besarnya nilai transaksi, tetapi juga dari perubahan perilaku dan struktur transaksi masyarakat.

Di tengah dinamika itu, QRIS menjadi salah satu motor penting pertumbuhan pembayaran digital di Sumatera Utara. Pada triwulan I 2026, volume transaksi QRIS tumbuh 84,7 persen yoy, sedangkan nominal transaksi meningkat 59,2 persen yoy. Jumlah pengguna QRIS tumbuh 10,5 persen dan jumlah merchant meningkat 19,2 persen.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

Angka tersebut menunjukkan perkembangan dari dua sisi. Masyarakat semakin banyak menggunakan QRIS sebagai pilihan pembayaran, sementara semakin banyak pelaku usaha menyediakan fasilitas pembayaran tersebut. Pertumbuhan merchant juga penting karena menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya berlangsung di sisi konsumen, tetapi mulai menjadi bagian dari cara pelaku usaha menerima pembayaran.

Dampaknya dapat dirasakan terutama oleh usaha mikro dan kecil. Bagi pedagang, QRIS menawarkan cara yang relatif sederhana untuk menerima pembayaran digital tanpa harus menyediakan berbagai perangkat pembayaran untuk setiap layanan. Satu standar QRIS memungkinkan merchant menerima pembayaran dari berbagai aplikasi yang terhubung dengan ekosistem tersebut.

Perubahan ini menjadi semakin menarik jika ditempatkan dalam struktur ekonomi Sumatera Utara yang kuat pada perdagangan, jasa, UMKM, serta pariwisata. Digitalisasi pembayaran dapat membuat transaksi lebih praktis sekaligus membantu pelaku usaha mengikuti perubahan kebiasaan konsumen.

Contohnya dapat dilihat pada bisnis kopi. Sumatera Utara memiliki komoditas kopi yang kuat dan dikenal melalui berbagai kawasan penghasil kopi, terutama di wilayah sekitar Danau Toba. Kopi bukan hanya produk pertanian. Dalam perkembangannya, kopi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata, kuliner, ekonomi kreatif, dan identitas daerah.

Ketika wisatawan datang ke kedai kopi, pusat oleh-oleh, restoran, atau pelaku usaha lokal, kemudahan pembayaran menjadi bagian dari pengalaman mereka. Bagi usaha kecil yang sebelumnya sangat bergantung pada uang tunai, kemampuan menerima pembayaran digital dapat mengurangi ketergantungan terhadap uang fisik dan memberikan pilihan yang lebih praktis bagi konsumen.

Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa QRIS dengan sendirinya akan membuat usaha kopi atau UMKM menjadi lebih maju. Teknologi pembayaran hanyalah salah satu bagian dari ekosistem bisnis. Produk yang berkualitas, harga yang kompetitif, pelayanan, lokasi, pemasaran, kemampuan mengelola keuangan, dan akses terhadap pasar tetap menjadi faktor utama. QRIS membantu transaksi menjadi lebih mudah, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk membangun usaha yang sehat.

Hal serupa berlaku pada sektor pariwisata. Sumatera Utara memiliki Medan sebagai pusat perdagangan dan jasa, serta kawasan wisata seperti Danau Toba dan berbagai destinasi lainnya. Ketika wisatawan semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital, kesiapan merchant menjadi bagian dari kualitas layanan destinasi.

Bagi wisatawan mancanegara, perkembangan QRIS Antarnegara bahkan memberikan peluang yang lebih besar. Wisatawan dari negara mitra dapat melakukan pembayaran pada merchant QRIS di Indonesia menggunakan aplikasi pembayaran dari negaranya, sementara merchant tetap menerima dana dalam Rupiah. Mekanisme tersebut berpotensi membuat transaksi wisatawan menjadi lebih sederhana sekaligus memperluas kesempatan UMKM lokal untuk melayani pasar internasional.

Dalam konteks ini, warung makan, kedai kopi, toko cendera mata, penginapan, hingga pelaku ekonomi kreatif dapat menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata. Wisatawan tidak hanya membelanjakan uang di hotel atau destinasi utama. Pengeluaran mereka juga mengalir kepada berbagai usaha kecil yang berada di sekitar kawasan wisata.

Pembayaran digital karena itu dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat keterhubungan antara pariwisata dan ekonomi lokal. Semakin mudah wisatawan melakukan transaksi, semakin kecil hambatan pembayaran ketika mereka membeli produk atau jasa dari pelaku usaha kecil. Tetapi sekali lagi, kemudahan pembayaran harus berjalan bersama kualitas produk dan pelayanan agar manfaat ekonominya benar-benar bertahan.

Manfaat pembayaran digital juga berpotensi lebih jauh daripada sekadar mempercepat transaksi. Aktivitas pembayaran yang tercatat secara digital dapat membantu pelaku usaha membangun rekam aktivitas bisnis. Jika dikelola dengan baik, catatan tersebut dapat membantu pemilik usaha memahami pemasukan, mengatur arus kas, dan memisahkan transaksi usaha dari kebutuhan pribadi.

Dalam jangka panjang, pengelolaan transaksi yang semakin tertib dapat mendukung keterhubungan UMKM dengan ekosistem keuangan formal. Di sinilah pembayaran digital mempunyai hubungan dengan inklusi keuangan. Digitalisasi tidak lagi hanya berbicara mengenai bagaimana seseorang membayar, tetapi juga bagaimana pelaku usaha mengelola dan mengembangkan bisnisnya.

Meski demikian, pertumbuhan pembayaran digital juga membawa tantangan. Semakin besar aktivitas ekonomi berpindah ke ruang digital, semakin penting keamanan transaksi, perlindungan konsumen, dan literasi digital. Masyarakat harus mampu membedakan QRIS resmi dengan modus penipuan, menjaga data pribadi, dan memahami bahwa kemudahan teknologi juga disertai risiko.

Tantangan lainnya adalah kesenjangan akses. Kondisi antara pusat ekonomi perkotaan dan wilayah yang infrastrukturnya belum sekuat kota besar tidak selalu sama. Kepemilikan telepon pintar juga tidak otomatis berarti seseorang memiliki kemampuan menggunakan layanan keuangan digital secara aman dan efektif.

Karena itu, keberhasilan digitalisasi pembayaran tidak cukup diukur berdasarkan jumlah merchant, pengguna, atau volume transaksi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah digitalisasi tersebut benar-benar memperluas akses ekonomi, menurunkan hambatan transaksi, membantu UMKM berkembang, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen.

Di sisi lain, perkembangan pembayaran digital tidak berarti uang tunai akan segera menghilang. Pada triwulan I 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara mencatat net inflow uang kartal sebesar Rp4,62 triliun, sejalan dengan normalisasi kebutuhan uang tunai masyarakat setelah periode akhir tahun.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa uang tunai dan pembayaran digital masih berjalan berdampingan. Masyarakat memilih instrumen pembayaran berdasarkan kebutuhan, kondisi tempat usaha, akses jaringan, nilai transaksi, dan kenyamanan. Karena itu, membingkai perkembangan pembayaran sebagai pertarungan antara tunai dan nontunai justru berisiko menyederhanakan realitas ekonomi masyarakat.

Yang lebih penting adalah membangun ekosistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal. QRIS, BI-FAST, uang elektronik, kartu, serta berbagai infrastruktur pembayaran lainnya mempunyai fungsi masing-masing dalam mendukung aktivitas ekonomi.

Bagi Sumatera Utara, perkembangan tersebut membuka peluang yang lebih besar. Digitalisasi pembayaran dapat menghubungkan konsumen dengan pedagang, wisatawan dengan UMKM, serta produk lokal dengan pasar yang lebih luas. Kopi dari kawasan penghasil dapat dibawa ke ruang konsumsi yang lebih luas. Produk kuliner dan kerajinan dapat lebih mudah ditawarkan kepada wisatawan. Usaha kecil di kawasan destinasi dapat memiliki pilihan pembayaran yang semakin sesuai dengan kebiasaan konsumen.

Namun, teknologi tidak boleh diperlakukan sebagai tujuan akhir. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah manfaat ekonomi yang dihasilkan. Jika pembayaran digital mampu membuat transaksi lebih efisien, membantu pelaku usaha mengelola bisnis, memperluas akses konsumen, memperkuat pariwisata, dan meningkatkan peluang UMKM masuk ke ekosistem ekonomi formal, maka digitalisasi telah menghasilkan nilai yang lebih besar daripada sekadar perubahan cara membayar.

Sumatera Utara kini berada pada tahap penting dalam perjalanan transformasi ekonomi digital. Pertumbuhan QRIS yang tinggi menunjukkan bahwa masyarakat dan pelaku usaha semakin terbuka terhadap pembayaran digital. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak berhenti pada angka transaksi.

Digitalisasi harus diterjemahkan menjadi produktivitas, efisiensi, inklusi, dan pengalaman ekonomi yang lebih baik. Dengan pendekatan tersebut, QRIS dan sistem pembayaran nontunai bukan hanya alat untuk menggantikan uang tunai, melainkan bagian dari infrastruktur yang dapat membantu Sumatera Utara memperkuat perdagangan, mengembangkan UMKM, menghidupkan ekonomi kopi, dan meningkatkan daya tarik pariwisata.

Pada akhirnya, transformasi pembayaran akan berarti ketika teknologi terasa manfaatnya dalam kehidupan nyata: ketika wisatawan dapat membayar dengan mudah, pedagang kecil tidak kehilangan peluang penjualan, pelaku usaha dapat mengelola keuangannya dengan lebih tertib, dan transaksi ekonomi lokal semakin terhubung dengan pasar yang lebih luas. Di titik itulah digitalisasi pembayaran menjadi bagian nyata dari transformasi ekonomi Sumatera Utara, bukan sekadar perubahan dari uang tunai menuju transaksi melalui telepon genggam. (Red/*)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini