BerandaAkademikaKetaatan Ekologis, Seminar STT Paulus Medan Membaca Krisis Lingkungan Secara Teologis

Ketaatan Ekologis, Seminar STT Paulus Medan Membaca Krisis Lingkungan Secara Teologis

Oleh : Hery Buha Manalu

Ketaatan ekologis menjadi pembahasan utama seminar akademik yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Teologia (STT) Paulus Medan pada Sabtu, 28 Februari 2026 di Le Polonia Hotel Medan, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang ilmiah yang menghubungkan refleksi teologi dengan realitas krisis lingkungan yang semakin nyata di tengah masyarakat.

Seminar menghadirkan narasumber narasumber Metropolitan Photios dari Demetrias (Yunani), Episkop Daniel dari Nikopolis dan Asia Timur Raya serta Bishop Pdt.Dr. Humala Lumban Tobing., M.Th

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

Episkop Daniel dari Nikopolis dari wilayah Nikopolis dan Asia Timur Raya. Ia dijadwalkan membahas inti dosa ketidaktaatan sebagai akar spiritual yang berdampak pada kehidupan manusia, termasuk dalam relasi manusia dengan alam dan ciptaan.

Ketaatan Ekologis, Seminar STT Paulus Medan Membaca Krisis Lingkungan Secara Teologis
Ketaatan Ekologis, Seminar STT Paulus Medan Membaca Krisis Lingkungan Secara Teologis foto bersama usai seminar Teologi Terintegrasi di Le Polonia Medan /foto: Kopitimes.id

Dalam perspektif teologi terintegrasi, seminar ini menempatkan iman, refleksi teologis, dan praksis sosial-ekologis sebagai satu kesatuan. Pendekatan ini menegaskan bahwa krisis lingkungan dan bencana alam tidak hanya dipahami sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai realitas teologis yang berkaitan dengan ketaatan manusia kepada Allah.

Teologi Rasul Paulus menjadi landasan utama diskusi. Pemikiran Paulus menekankan bahwa ketaatan merupakan sikap iman yang memiliki konsekuensi etis dalam kehidupan sosial dan ekologis. Ketidaktaatan, sebaliknya, dipahami sebagai sikap yang berpotensi merusak relasi manusia dengan Allah, sesama, dan ciptaan.

Melalui kerangka tersebut, gereja-gereja di Sumatera Utara diajak membaca bencana alam sebagai ruang pembacaan teologis. Bencana tidak semata dilihat sebagai peristiwa alam, tetapi sebagai panggilan refleksi iman mengenai tanggung jawab manusia dalam merawat lingkungan hidup.

Ketaatan Ekologis, Seminar STT Paulus Medan Membaca Krisis Lingkungan Secara Teologis
Forum ilmiah seperti seminar ini menunjukkan kontribusi institusi teologi terhadap isu publik yang mendesak. Diskursus teologi tidak hanya berlangsung dalam ruang akademik, tetapi diarahkan pada praksis gereja yang kontekstual, kritis, dan berkelanjutan./Suasana saat Seminar/foto:kopi times.id

Seminar ini menegaskan bahwa respons gereja terhadap bencana tidak boleh berhenti pada tindakan karitatif. Gereja didorong menumbuhkan pertobatan ekologis, membangun budaya ketaatan dalam kehidupan sehari-hari, serta mengoreksi praktik sosial yang mempercepat kerusakan lingkungan dan memperbesar kerentanan masyarakat.

Pendekatan akademik yang digunakan mengintegrasikan kajian biblika, teologi sistematika, dan konteks sosial lokal. Integrasi tersebut diharapkan menghasilkan kerangka teologis yang relevan bagi gereja untuk berperan sebagai agen transformasi ekologis di tengah meningkatnya risiko bencana.

Forum ilmiah seperti seminar ini menunjukkan kontribusi institusi teologi terhadap isu publik yang mendesak. Diskursus teologi tidak hanya berlangsung dalam ruang akademik, tetapi diarahkan pada praksis gereja yang kontekstual, kritis, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, seminar STT Paulus Medan menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah memiliki dimensi ekologis yang nyata. Teologi Rasul Paulus membantu gereja memahami bahwa merawat ciptaan merupakan bagian dari iman, sehingga gereja dipanggil membangun tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan sebagai wujud ketaatan spiritual. (Red/*)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini