Ilustrasi : Ist

Oleh Yonge Sihombing
Kopi Times – Tulisan ini dilatarbelakangi oleh sebuah kenyataan dan fakta ekonomi yang terjadi di Indonesia pasca wabah Covid 19 melanda Indonesia dan dunia sejak awal tahun 2020, yang saat ini sudah memasuki bulan yang ke-9, hari yang ke-4.
Banyak ekonom, politisi, pengusaha, akademisi, tokoh, penulis, birokrat, bahkan lembaga-lembaga inernasional yang memiliki reputasi tersohor, top on the top, memperkirakan dan meramalkan bahwa ekonomi Indonesia akan jatuh ke jurang resesi, bahkan ke jurang krisis, dan depresi ekonomi.
Perkiraan dan ramalan tentang kejatuhan ekonomi Indonesia telah dipublikasi di banyak media, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Perkiraan dan ramalan terhadap kejatuhan ekonomi Indonesia, sangatlah ilmiah, dan wajar, karena memang tidak hanya ekonomi Indonesia yang diperkirakan dan diramalkan akan resesi dan krisis, akan tetapi termasuk negara-negara lainnya di dunia. Namun perkiraan dan ramalan terhadap kejatuhan ekonomi Indonesia ke jurang resesi, tidak terjadi. Mengapa?
Pertama, karena ada tangan yang tak kelihatan (invisible hand) yang membantu Indonesia. Saya telah beberapa kali menuliskan artikel dengan menyisipkan tentang adanya tangan tak kelihatan membantu Indonesia. Dalam buku Adam Smith yang ditulis pada tahun 1776, dengan judul The Wealth Of Nations (Kesejahteraan Bangsa-Bangsa), Smith menyakini bahwa ada tangan tak kelihatan (invisible hand) yang mengendalikan ekonomi sebuah bangsa, bahkan dunia. Hal itu dituliskan oleh beliau, dalam kata pengantar bukunya yang sangat terkenal itu, dan menjadi buku yang mencikalbakali lahirnya ilmu ekonomi.
Kedua, dalam buku yang saya tulis tentang “Jokowinomics Menabur dan Menuai” (2019), terlihat nyata keadilan, kejujuran, dan kesungguhan Jokowi dalam membangun ekonomi dan mensejahterakan rakyatnya, maka taburan-taburan program ekonominya, dibuahi, hingga berbuah, dan siap untuk dituai. Itu yang saya lihat, dan saya fahami.
Ketiga, kesatuan (sinergitas) dalam mengemban tugas pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, merupakan bagian yang juga menentukan bekerjanya tangan tak kelihatan itu. Saya melihat, bahwa masih ada kesatuan hati, pikiran, tindakan, dan semangat dari pemangku kepentingan, telah melahirkan sebuah kebijakan, program, dan kegiatan ekonomi yang baik, benar, dan tepat. Itu terjadi di Indonesia, meskipun ada satu dua dari pemangku kepentingan yang keinginan dan kemauannya seakan terbalik dari yang sebaiknya dan yang sebenarnya untuk dilakukan. Namun kekuatan satu, dua, atau tiga orang pemimpin justru dahsyat, saya sebut saja kesatuan antara Presiden Jokowi dengan pembantunya, Luhut Binsar Pandjaitan, Sri Mulyani, Tito Carnavian, Retno Marsudi. Dan juga pimpinan daerah yang sungguh-sungguh menyatu dengan pimpinan pusat.
Keempat, tangan tak kelihatan membantu ekonomi Indonesia, karena masih ada sejumlah warga negara Indonesia yang sungguh-sungguh mendoakan Indonesia dan mendoakan pimpinannya. Meskipun banyak yang tidak peduli, tidak mau tahu, bahkan tidak sedikit yang ingin merongrong, tetapi kekuatan doa orang orang yang tulus dan ikhlas itu, membuahkan hasil, sehingga Indonesia dibantu oleh tangan tak kelihatan itu.
Kelima, karena cara kerja otak dan otot, berbeda dengan cara kerja hati, hikmat, dan naluri kemanusiaan. Cara kerja hati, hikmat, dan naluri kemanusiaan jauh lebih dahsyat membangun ekonomi, dibandingkan dengan cara kerja otak dan otot. Cara kerja otak dan otot, lebih menghandalkan otak dan otot. Tetapi cara kerja hati, hikmat, dan naluri kemanusian, lebih menghandalkan pada kekuatan sang Pencipta Alam Semesta.
Inilah rahasia besar dibalik ketidakjatuhan ekonomi Indonesia ke dalam jurang resesi ekonomi yang tengah melanda dunia. Saat ini banyak para ahli, politisi, dan lembaga-lembaga internasional heran dengan ketidakjatuhan ekonomi Indonesia ke dalam jurang resesi ekonomi.
Akhirnya saya tutup tulisan ini dengan sebuah nasehat yang tertulis dalam sebuah Kitab: “Janganlah Bersandar Kepada Pengetahuan dan Pikiranmu, Tetapi Bersandarlah Kepada-KU”. Tangan yang Kuat, untuk Menolong. INVISIBLE HAND. (*)
Yonge Sihombing, Penulis Buku Jokowinomics Menabur dan Menuai, Ketua KPNEJ (Komite Pengusul Nobel Ekonomi Untuk Jokowi), Mantan Staf Ahli Ketua DPRD Sumut.
Editor : Hery B Manalu




