Kopi Times | Medan :
Spiritualitas dan servant leadership menjadi dua fondasi penting dalam membentuk kepemimpinan pemuda Kristen yang transformatif dan inovatif. Pesan itu disampaikan Bishop Antoni Manurung, M.Th., dalam kegiatan Pendidikan Kader Tingkat Madya GAMKI Sumatera Utara pada 28-29 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung BPSDM Provinsi Sumatera Utara, Jalan Ngalengko No. 1, Medan. Acara diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia atau DPD GAMKIÂ Provinsi Sumatera Utara dan diikuti perwakilan DPC GAMKI se-Sumatera Utara.
Bishop Antoni Manurung menegaskan bahwa spiritualitas memiliki pengaruh langsung terhadap cara seseorang menjalani kehidupan dan memimpin.
Menurutnya, spiritualitas menentukan bagaimana seorang pemimpin menggunakan pengaruh yang dimilikinya. Karena itu, kepemimpinan Kristen tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan organisasi, komunikasi, atau posisi struktural.

Kepemimpinan juga harus bertumbuh dari kehidupan rohani yang kuat. Dalam konteks tersebut, Bishop Antoni menekankan pentingnya membangun relasi yang intim dengan Tuhan.
Doa menjadi salah satu bagian utama dalam membangun relasi tersebut. Namun, doa tidak boleh berhenti sebagai kegiatan rutin tanpa makna.
Ia menekankan bahwa doa harus menjadi kebiasaan hati yang terus menempatkan seseorang dalam hubungan dengan Tuhan.
Para kader juga diajak untuk mengevaluasi kembali apakah doa masih menjadi prioritas utama dalam kehidupan mereka.
Selain doa, Alkitab ditegaskan sebagai sumber kebenaran yang menjadi dasar dalam kehidupan dan kepemimpinan Kristen.
Spiritualitas Dibangun Melalui Persekutuan.
Bishop Antoni mendorong para kader untuk tetap terlibat dalam pertemuan, perkumpulan, konferensi, dan berbagai bentuk persekutuan. Ruang seperti itu dinilai penting untuk memperkuat kehidupan rohani, kebersamaan, dan pertumbuhan kader.
Dalam pembahasan mengenai servant leadership, Bishop Antoni menjelaskan bahwa kepemimpinan yang melayani mengubah pusat orientasi seorang pemimpin.
Pemimpin tidak menempatkan kekuasaan sebagai tujuan utama. Kepemimpinan justru diarahkan pada pelayanan, tanggung jawab, dan keberlanjutan organisasi.
Karena itu, pemimpin tidak seharusnya menumpuk atau mempertahankan kekuasaan untuk dirinya sendiri.
Servant leadership juga menuntut adanya regenerasi. Proses kaderisasi harus berjalan agar kepemimpinan tidak berhenti pada satu orang atau satu generasi. Pemimpin perlu menyiapkan kader berikutnya untuk menerima tanggung jawab dan melanjutkan pelayanan organisasi.
Dalam konteks GAMKI, spiritualitas dan kaderisasi menjadi dua unsur yang saling berkaitan.
Spiritualitas membentuk karakter dan cara seorang pemimpin menggunakan pengaruh. Sementara servant leadership mengarahkan pengaruh tersebut untuk melayani, membangun orang lain, dan menyiapkan generasi penerus.
Melalui pendekatan tersebut, GAMKI diharapkan mampu melahirkan pemimpin muda Kristen yang tidak hanya memiliki kemampuan organisasi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, karakter melayani, serta komitmen terhadap regenerasi. (Red/*)



