BerandaBerita/DaerahEkonomi Melambat, Namun Sumut Masih Diatas Nasional

Ekonomi Melambat, Namun Sumut Masih Diatas Nasional

Screenshot 20200509 095507
Gambar : Ist

Kopi-times.com | Medan :
Walau Ekonomi Sumut melambat, namun posisi tersebut masih diatas nasional, dan berada diposisi tertinggi ke dua setelah Sumatera Selatan, ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumut, Wiwiek Sisto Widayat pada Bincang Bareng Media (BBM) secara online, Jumat (8/5/2020) siang.

“Meskipun ekonomi Sumut melambat, namun posisi tersebut masih jauh kuat di atas nasional yang hanya mencapai 2,97 persen. Untuk di Pulau Sumatera, Sumut masih berada di posisi tertinggi ke 2 setelah Sumatera Selatan (Sumsel) yang tercatat 4,98 persen. Masih meluasnya dampak Covid-19 ini diprakirakan akan mendorong terjadinya perlambatan perekonomian Sumut yang bisa menjadi berada di kisaran 4,3 persen – 4,7 persen atau mengalami perlambatan sekitar 0,8 persen dari baseline dalam skenario sedang”, papar Wiwiek.

Pertumbuhan perekonomian Sumatera Utara ( Sumut) mengalami perlambatan akibat dampak covid-19 kalau dibandingkan triwulan sebelumnya.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

“Disaat mewabahnya virus Covid-19 pertumbuhan ekonomi Sumut tercatat 4,65 persen dibandingkan triwulan sebelumnya yakni 5,21 persen sesuai pola historis di awal tahun. Perlambatan terdalam akan dirasakan pada triwulan II 2020 dan akan meningkat pada triwulan berikutnya seiring dengan fase pemulihan akibat Covid-19”, sebut Wiwiek.

Dibutuhkan upaya keras untuk menahan penurunan daya beli masyarakat melalui program jaring pengaman sosial.

“Bahkan perlambatan dirasakan di sektor eksternal maupun domestik. Untuk itu dibutuhkan upaya keras menahan penurunan daya beli masyarakat melalui program jaring pengaman sosial melalui anggaran pemerintah,“ sebutnya.

Investasi mengalami perlambatan dipengaruhi belum terealisasinya belanja modal pemerintah dan pembangunan swasta yang terbatas

“Investasi mengalami perlambatan dipengaruhi belum terealisasinya belanja modal pemerintah dan pembangunan swasta yang terbatas terkonfimasi oleh penurunan penjualan semen. Pada sektor ekspor terkontraksi akibat penurunan permintaan eksternal pada masa pandemi.
Sementara, impor terkontraksi lebih dalam didorong oleh penurunan impor barang modal serta terbatasnya pelancong ke luar negeri karena Covid-19″, paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan Wiwiek, perlambatan ekonomi diperkirakan bersumber dari penurunan kinerja permintaan eksternal akibat pandemi Covid-19 yang diprediksi berpotensi menghambat rantai suplai global serta sektor pariwisata.

Hal tersebut ditengarai akan tercermin oleh perlambatan LU Industri Pengolahan, LU perdagangan, LU transportasi dan pergudangan, serta LU akomodasi dan makan minum dan tercermin oleh penurunan hasil survei perkiraan kegiatan usaha ke depan. Penurunan permintaan eksternal juga terkonfirmasi oleh penurunan harga komoditas di pasar internasional.

Dari sisi permintaan domestik, konsumsi rumah tangga diprakirakan tumbuh melambat dipengaruhi oleh penurunan daya beli masyarakat akibat terganggunya kinerja dunia usaha dan pembatasan aktivitas masyarakat untuk menahan laju penyebaran Covid-19.

Kondisi ini terindikasi oleh penurunan indeks keyakinan konsumen dan penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu.

Untuk mengantisipasi Covid-19 itu kata Wiwiek kebijakan Bank Indonesia difokuskan pada upaya stabilisasi dan penguatan nilai tukar rupiah melalui peningkatan intensitas kebijakan triple intervention.

Selain itu, untuk mengupayakan pemulihan ekonomi nasional dari dampak Covid-19 dilakukan pelonggaran moneter melalui instrumen kuantitas (quantitative easing) yang keseluruhannya telah mencapai Rp.503 triliun. (Rel)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini