Oleh : Hanibal Parulian Situmeang, Mahaiaswa Program Pasca Sarjana STT Paulu Medan
A. PENDAHULUAN
Gereja adalah Tubuh Kristus dan Yesus Kristus adalah Kepala tubuh tersebut. (Efesus 5:23). Setiap orang Kristen yang lahir sebagai orang Kristen, maupun yang memilih memeluk keyakinan Kristen pastilah akan melihat peranan besar antara Gereja dan Budaya yang saling memiliki korelasi saling mengikat baik dalam ajaran Sang Juruselamat, dan para umat yang hidup sebagai kesatuan makhluk yang menempati alam ciptaan ini. Gereja hadir sebagai rumah bagi semua ciptaan ( malaikat, alam, hewan, manusia ). Gereja haruslah hadir sebagai roda penggerak kesinambungan kasih yang disalurkan oleh Allah kepada semua ciptaan-Nya. Kemelesetan keselamatan mengakibatkan kerusakan moral yang berdampak pada alam ciptaan-Nya.
B. Analisis Masalah
Gereja melakukan sakramen Perjamuan Kudus setiap minggunya, melakukan sakramen baptis, melakukan sakramen perminyakan, yang mana dalam unsur sakramen-sakramen tersebut menggunakan unsur-unsur alam untuk menghadirkan Allah didalam Sang Firman, masuk kedalam tubuh manusia yang fana, hadir menyembuhkan melalui minyak sakramen, menyatunya manusia yang fana dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus dalam alam mistery.
Bagaimanakah manusia seharusnya melihat alam dan berusaha merawat alam yang Allah ciptakan bagi umat manusia sebagai sarana memperoleh keselamatan?

Bagaimana sikap gereja terhadap deforestasi yang meningkat? Data kementrian kehutanan tahun 2024 nett deforestasi 175.400ha. Allah memerintahkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman eden (Kej 2:15). Apakah mengusahakan diartikan sebagai membangun perumahan cluster dan pabrik-pabrik untuk menyerap manusia sebagai tenaga kerja? Atau sebenarnya berusaha memanfaatkan dengan secukupnya dan menjaga keseimbangan alam sekitar? Kehadiran Gereja dalam memberikan pengetahuan yang benar, dan tidak taatnya manusia terhadap perintah Allah dan Gereja Nya.
Banjir bandang, kebakaran hutan, Bagaimana Gereja hadir dalam memelihara alam, bukan hanya bersikap sebagai pemberi bantuan terhadap Masyarakat yang menderita, melainkan melakukan pencegahan terjadinya bencana alam.
Berdasarkan data BNPB, Buku data bencana Indonesia tahun 2026 terjadi bencana sebanyak 1.201 data tahun 2024 sebanyak 3.472 dan tahun 2025 sebanyak 4.727. karena data yang diterima dari BNPB belum secara keseluruhan ditahun 2026 maka penulis mebandingkan kejadian dari tahun 2024-2025 yang mengalami peningkatan signifikan sebesar 36,15 persen. Bagaimana dampak Gereja yang tidak berpihak kepada alam semesta?
C. Refleksi-Theologis
Rasul Paulus dalam kitab Roma 8:19-23 menekankan kemerdekaan sejati didalam Yesus Kristus yang telah diterima oleh setiap orang yang percaya kepada Nya, demikianlah semua makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Jika benar didalam Allah ada kemerdekaan, maka anak-anak Allah pastilah memelihara alam sebagaimana Allah memelihara manusia itu sendiri.
Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Kolose pasal 1:15-20 karena didalam Yesus Kristuslah telah diciptakan segala sesuatu, manusia yang fana yang telah menyatu didalam Yesus Kristus hendaklah memahami cara memperlakukan alam karena semua diciptakan untuk kebaikan manusia itu sendiri yang merupakan Gambaran Ilahi.
Unsur-unsur alam dalam sakramen perjamuan kudus, sakramen baptisan, sakramen perminyakan yang dimiliki oleh Gereja, mengarahkan manusia untuk menerima anugerah yang nyata dimana kehadiran Sang Maha Pencipta menyatu dengan manusia. Askesis mengajarakan manusia mengendalikan keinginan, hidup dalam kesederhanaan, penolakan terhadap hidup konsumtif berlebih. Ini dapat menjadi pola yang baik dalam kehidupan manusia yang benar-benar mengenal Sang Pencipta.
Metanoia ( Pertobatan ) adalah perubahan nyata dalam diri manusia yang dimulai dari penyesalan batin atas apa yang terlah diperbuat, dilanjutkan dengan perubahan orientasi hidup. Eksploitasi alam berkaitan dengan keserakahan dan keterasingan manusia dari Allah. Pertobatan ekologis harus dimulai dari kebiasaan pribadi, kehidupan komunitas, dan sikap luhur terhadap Keputusan public.
D. Argumentasi
Alam yang merupakan ciptaan awal sebelum manusia diciptakan, merupakan anugerah yang luar biasa yang Allah hadirkan bagi umat manusia. Hanya saja manusia masih belum bisa memahami alam yang memiliki dimensi misterius tersebut dan tidak mewujudkan sikap mengelola alam yang merupakan unsur kehadiran Allah bagi umat manusia. Manusia dalam kesombongannya melihat ciptaan manusia lebih hebat dari pada alam itu sendiri, dan menggantikan kesenangan akan pujian menjadi allah dimata manusia lebih elok daripada melihat kehadiran Allah melalui unsur-unsur alam tersebut.
“Hubungan yang sehat dengan ciptaan merupakan salah satu dimensi pertobatan pribadi secara menyeluruh, yang mencakup pengakuan atas kesalahan, dosa, kekurangan, dan kegagalan kita, serta membawa kita kepada pertobatan yang tulus dan keinginan untuk berubah.” (paragraph 218 Laudato si)
E. Penutup
Gereja mempunyai tiga pilar, jika semua dilakukan dengan benar, maka akan memperoleh buah-buah roh sebagai hasil dari perubahan orientasi hidup yang mengenal Sang Penciptanya. Perubahan orientasi ini diawali dari orthodoxia ( ajaran yang lurus ), ortholathria ( ibadah yang lurus ), orthopraxia ( praktik hidup yang lurus ). Dengan ketiga unsur yang benar, manusia akan Kembali kepada citra awal penciptaan Allah, yaitu segambar dan serupa dengan Allah ( Theosis ). Jika manusia di muka bumi ini tidak mengalami kerusakan kodrat, maka alam pun akan mencapi kesempurnaannya. Mari kita semua merenungi kehidupan kita, mengambil jalan hidup yang membawa kita mencapai pengenalan sempurna kepada Allah dan mengabaikan segala ajakan-ajakan si jahat untuk melakukan perusakan-perusakan alam agar Allah dipermuliakan didalam semua dan melalui semua. (Red/*)
Referensi:
– Alkitab
– Kementrian Kehutanan RI
– BNPB
– Ecumenical Patriarch Bartholomew – Toward an Ecological Worldview
– Laudato si’: On Care for Our Common Home
Materi ini adalah hasil diskusi dan Pengembangan materi Mata Kuliah Teologi dan Budaya Berbasis Ajaran Paulus.
(Red/*)



