Oleh : Hery Buha Manalu
Langkah kaki terdengar berderak pelan di atas tanah basah yang tertutup dedaunan gugur. Pagi itu, aroma khas pegunungan, campuran humus, embun, dan udara segar, menyapa hangat saat saya mulai melangkah menembus rimbunnya pepohonan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Dago Pakar, Bandung. Berada di ketinggian sekitar 770 meter di atas permukaan laut, kawasan hutan kota ini menyimpan ketenangan yang luar biasa. Namun, di balik rindangnya tajuk-tajuk pohon raksasa ini, bumi Dago menyimpan rahasia kelam dari lembaran sejarah bangsa yang pernah terukir dalam kegelapan lorong batu.
Jejak Bersejarah Gua Belanda dan Gua Jepang Dago
Tujuan pertama dalam perjalanan wisata dan petualangan ini adalah Gua Belanda. Dari kejauhan, pintu masuk terowongan yang melengkung tampak anggun sekaligus misterius. Saat berdiri tepat di mulut gua, ada hembusan udara dingin yang keluar menyapa kulit, seolah menyapa siapa saja yang berani melintasi garis batas antara masa kini dan masa lalu.

Begitu melangkah ke dalam, kegelapan langsung menyelimuti. Saya menyalakan lampu senter, dan berkas cahayanya segera menerangi dinding-dinding lorong yang dibangun dengan semen dan beton kokoh. Gua ini bukan sekadar terowongan biasa. Awalnya, pada tahun 1906, pemerintah kolonial Belanda membangunnya hanya sebagai saluran air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok. Namun, seiring memanasnya situasi politik dunia menjelang Perang Dunia II, pada tahun 1941 tempat ini disulap dan diperluas menjadi jaringan benteng militer tentara Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).
Menyusuri lorong utamanya yang membentang sekitar 540 meter terasa seperti berjalan di dalam labirin raksasa. Gua Belanda memiliki 15 ruangan atau kamar yang tertata rapi. Di masa lalunya, ruang-ruang ini riuh oleh aktivitas para prajurit kolonial, ada yang difungsikan sebagai pos komunikasi radio, gudang amunisi, tempat perlindungan darurat, hingga instalasi penyadapan air. Suasana di dalam gua terasa sangat dingin dan hening. Setiap langkah memantulkan gema pelan, menghadirkan imajinasi tentang ketegangan yang pernah terjadi puluhan tahun silam ketika dentuman senjata memuncak di luar sana.

Setelah puas menjelajahi keanggunan arsitektur kolonial, perjalanan berlanjut menyusuri jalan setapak hutan sejauh beberapa ratus meter menuju Gua Jepang. Perbedaan atmosfer antara kedua tempat ini terasa begitu tajam. Jika Gua Belanda terasa rapi dan terencana, maka Gua Jepang menyajikan pemandangan yang jauh lebih gersang, kasar, dan mencekam.
Dua tempat ini memang lahir dari kisah perjuangan yang amat berbeda. Gua Jepang dibangun antara tahun 1942 hingga 1945 di bawah pendudukan tentara Dai Nippon. Yang membuat dada berdesir saat berdiri di mulut guanya adalah kenyataan pahit bahwa terowongan ini tidak dibangun dengan teknologi canggih, melainkan dipahat secara paksa oleh keringat dan darah ratusan rakyat Indonesia melalui sistem kerja paksa atau Romusha. Catatan penuturan sejarah lokal mencatat sekitar 300 hingga ratusan tenaga kerja romusha yang dikerahkan secara intensif untuk menggali lorong-lorong batu cadas bukit tersebut.
Menyusuri jaringan lorong sepanjang 280 meter ini menyajikan ketegangan petualangan yang berbeda. Tidak ada lapisan semen atau beton di dindingnya. Yang terlihat adalah guratan-guratan kasar pahatan tangan manusia pada batuan tuf vulkanik, endapan debu dan material letusan dahsyat Gunung Sunda Purba jutaan tahun lalu.
Gua Jepang ini memiliki 18 ruang lorong, 4 pintu masuk utama, dan 2 celah pengintaian kecil yang mengarah ke luar. Benteng bawah tanah ini dirancang sebagai tempat persembunyian strategis, gudang logistik, serta tempat pengintaian untuk menahan gempuran pasukan Sekutu.
Berdiri di dalam salah satu lorong sempitnya yang remang-remang, membayangkan bagaimana para pekerja Romusha berjuang di tengah kegelapan tanpa ventilasi yang layak, menghadirkan rasa haru dan hormat yang mendalam. Dinding-dinding batu vulkanik ini menjadi saksi bisu keheningan, penderitaan, dan ketabahan manusia di masa perang.
Setelah menembus kedalaman lorong-lorong batu tersebut, perjalanan berakhir saat langkah kaki kembali membimbing saya keluar menuju mulut gua. Sinar matahari hangat yang menerobos celah-celah daun pinus terasa begitu menyejukkan. Udara segar Dago Pakar kembali memenuhi paru-paru, menyadarkan saya dari pengembaraan melintasi waktu.
Menjelajahi Gua Belanda dan Gua Jepang di Tahura Dago bukan sekadar petualangan fisik untuk menguji keberanian menembus kegelapan lorong bawah tanah. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan spiritual dan edukatif yang mempertemukan kita dengan dua sisi sejarah, ketangguhan teknik masa lalu dan jejak penderitaan manusia yang membentuk fondasi bangsa. Di balik keindahan alam perbukitan Bandung dan kekokohan batuan purbanya, sejarah itu akan terus hidup dan bercerita kepada siapa saja yang mau melangkah dan mendengarkannya. Damailah para jiwa yang gugur di tempat ini, Salam Lestari. (Red/*)



