Kopi Times – Di tengah riuh rendah gejolak global, nilai tukar rupiah kembali menguji daya tahannya. Kamis sore, 12 Februari 2026, mata uang Garuda itu ditutup di level Rp16.810 per dolar Amerika Serikat. Sehari berselang, Jumat pagi, 13 Februari 2026, rupiah dibuka sedikit melemah ke Rp16.815 per dolar AS. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah cermin denyut kepercayaan pasar terhadap ekonomi domestik di tengah lanskap global yang belum sepenuhnya ramah.
Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Yield SBN tenor 10 tahun pada Kamis naik ke level 6,42 persen. Kenaikan ini biasanya mencerminkan ekspektasi risiko yang lebih tinggi atau kebutuhan premi yang lebih besar dari investor. Namun pada Jumat pagi, yield tersebut terkoreksi turun ke 6,38 persen, sebuah sinyal bahwa pasar masih mencari keseimbangan di antara sentimen global dan fundamental domestik.
Dari sisi eksternal, indeks dolar AS atau DXY justru melemah ke level 96,93. Di saat yang sama, yield US Treasury (UST) Note 10 tahun turun ke 4,098 persen. Kombinasi pelemahan dolar dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS biasanya memberi ruang napas bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun ruang itu tampaknya belum sepenuhnya dimanfaatkan pasar, yang masih berhitung atas risiko global dan dinamika arus modal.

Dalam lanskap seperti ini, pergerakan rupiah tak bisa dibaca secara hitam-putih. Ia berada di antara tarikan faktor global, seperti kebijakan moneter Amerika Serikat dan sentimen risiko investor, serta daya tahan domestik yang ditopang stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kredibilitas kebijakan. Ketika yield SBN bergerak naik, pasar mengirimkan pesan kehati-hatian. Namun koreksi ke bawah keesokan harinya menunjukkan bahwa kepanikan belum menjadi arus utama.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Strategi bauran kebijakan, mulai dari stabilisasi nilai tukar, pengelolaan likuiditas, hingga penguatan instrumen pasar keuangan, dioptimalkan untuk menjaga ketahanan eksternal. Dalam bahasa yang lebih sederhana, bank sentral sedang memastikan agar guncangan dari luar tak berubah menjadi retakan di dalam negeri.
Langkah koordinatif ini penting, terutama ketika volatilitas global cenderung datang tanpa aba-aba. Pasar keuangan hari ini bergerak dalam hitungan detik, digerakkan oleh ekspektasi suku bunga, data inflasi, hingga tensi geopolitik. Dalam situasi demikian, kredibilitas kebijakan menjadi jangkar utama. Tanpa itu, fluktuasi bisa dengan mudah berubah menjadi gejolak.
Di sisi lain, transparansi data menjadi bagian dari upaya memperkuat kepercayaan. Perkembangan aliran modal asing pada saham dan SBN kini dapat diakses publik melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia serta Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan. Sementara itu, data kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tersedia melalui laman resmi Bank Indonesia. Keterbukaan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan fondasi akuntabilitas di tengah pasar yang sensitif terhadap isu kepercayaan.
Bagi pelaku pasar, angka Rp16.815 per dolar mungkin terasa sebagai tekanan. Namun bagi pembuat kebijakan, itu adalah alarm yang harus dijawab dengan langkah terukur, bukan reaksi berlebihan. Stabilitas bukan berarti tanpa fluktuasi, melainkan kemampuan mengelola gejolak agar tetap dalam koridor yang terkendali.
Rupiah hari ini memang belum sepenuhnya pulih ke zona nyaman. Tetapi selama koordinasi kebijakan terjaga dan transparansi diperkuat, ruang untuk stabilisasi tetap terbuka. Di tengah ketidakpastian global, ketenangan dan konsistensi sering kali lebih berharga daripada manuver yang tergesa-gesa. Dan untuk saat ini, itulah yang sedang diuji oleh pasar, dan dijawab oleh otoritas moneter. (Red/Hery Buha Manalu)



