BerandaEkonomi/BisnisBI Gelar Serambi 2026, Rp8,6 Triliun Uang Baru Disiapkan untuk Lebaran

BI Gelar Serambi 2026, Rp8,6 Triliun Uang Baru Disiapkan untuk Lebaran

Kopi Times – Bank Indonesia kembali memutar mesin likuiditas musiman. Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, otoritas moneter itu membuka layanan penukaran uang baru melalui program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (Serambi). Tradisi tahunan ini bukan sekadar ritual tukar-menukar lembaran rupiah, melainkan juga strategi menjaga kelancaran transaksi dan stabilitas sistem pembayaran saat konsumsi masyarakat melonjak.

SERAMBI, untuk periode pertama, pendaftaran wilayah Pulau Jawa dibuka Jumat (13/2) pukul 14.00 WIB hingga kuota habis. Sementara itu, wilayah luar Jawa menyusul pada Sabtu (14/2) pukul 08.00 WIB. Jadwal penukaran berlangsung pada 18–27 Februari 2026, sebagaimana tercantum dalam laman aplikasi PINTAR BI.

Tahun ini, BI menyiapkan dana segar Rp8,6 triliun untuk layanan penukaran melalui aplikasi PINTAR BI. Setiap paket penukaran dibatasi maksimal Rp5,3 juta per orang. Skema ini dirancang untuk pemerataan akses sekaligus mencegah penumpukan pada segelintir pihak.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebutkan layanan penukaran tersedia di 2.883 titik dengan total 8.755 layanan yang digelar BI bersama perbankan di seluruh Indonesia. Kanalnya beragam: mulai dari kas keliling, kantor bank umum, hingga layanan penukaran terpadu di lokasi-lokasi strategis seperti rumah ibadah dan pusat aktivitas masyarakat.

Khusus DKI Jakarta, layanan penukaran terpadu akan digelar pada 12–15 Maret 2026 di GBK Basketball Hall, Senayan. Skema terpusat ini biasanya menjadi magnet warga ibu kota yang ingin menukar uang dalam jumlah relatif besar tanpa harus berpindah-pindah lokasi.

Secara ekonomi, langkah BI ini mencerminkan pola musiman yang selalu berulang. Ramadan dan Lebaran identik dengan peningkatan konsumsi rumah tangga, dari belanja pangan, fesyen, hingga tradisi berbagi uang kepada keluarga dan kerabat. Permintaan uang kartal pun melonjak. Dalam konteks itu, Serambi menjadi instrumen manajemen kas untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa mengganggu stabilitas likuiditas perbankan.

BI juga tetap menekankan aspek digital. Pendaftaran dilakukan sepenuhnya secara daring melalui aplikasi PINTAR BI di laman https://pintar.bi.go.id�. Model ini dimaksudkan untuk menghindari antrean panjang yang selama ini kerap terjadi saat penukaran uang baru menjelang Lebaran.

Berikut tata cara penukaran uang baru melalui aplikasi PINTAR BI:
Pertama, masyarakat melakukan pendaftaran secara daring di laman resmi PINTAR BI. Kedua, siapkan KTP untuk memudahkan pengisian data diri pada menu “Penukaran Uang Rupiah Melalui Kas Keliling”. Ketiga, lakukan pemesanan sesuai wilayah penukaran yang tersedia.

Adapun batas maksimal penukaran Rp5,3 juta terdiri atas pecahan Rp50 ribu maksimal 50 lembar, Rp20 ribu maksimal 20 lembar, Rp10 ribu maksimal 100 lembar, Rp5.000 maksimal 100 lembar, Rp2.000 maksimal 100 lembar, dan Rp1.000 maksimal 100 lembar. Komposisi ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan uang kecil yang lazim dibagikan saat Lebaran.

Keempat, unduh atau cetak bukti pemesanan untuk ditunjukkan saat penukaran. Kelima, datang ke lokasi sesuai tanggal yang dipilih dengan membawa KTP serta uang rupiah dalam jumlah pas yang telah dikelompokkan sesuai pecahan. Ketentuan “uang pas” ini menjadi bagian dari disiplin layanan agar proses berjalan cepat dan efisien.

Di tengah geliat transaksi digital yang terus tumbuh, tradisi berbagi uang tunai saat Lebaran rupanya masih sulit tergantikan. Lembaran rupiah baru tetap memiliki nilai simbolik, tentang keberkahan, tentang harapan baru, tentang kebersamaan. BI membaca realitas itu, lalu menyiapkan pasokan.

Serambi, pada akhirnya, bukan hanya soal uang baru. Ia adalah cermin bagaimana otoritas moneter mengelola siklus musiman ekonomi domestik, menjaga agar euforia konsumsi tak menjelma kepanikan likuiditas. Di antara lonjakan belanja dan tradisi berbagi, negara hadir memastikan rupiah tetap mengalir dengan tertib. (Red/Hery Buha Manalu)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini