Kopi Times | Medan :
Wisuda ke-20 STT Paulus Medan menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk tidak hanya merayakan pencapaian akademik, tetapi juga meneguhkan komitmen terhadap integritas, mutu, dan tanggung jawab pelayanan.
Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan menggelar wisuda program doktor, magister, dan sarjana di Hotel Danau Toba International, Jalan Imam Bonjol No. 17, Medan, Sabtu, 26 September 2026.
Wisuda ke-20 STT Paulus Medan mengangkat tema Honorable yang merujuk pada 1 Tesalonika 4:11–12. Subtema yang diusung adalah “Menghidupi Ilmu sebagai Panggilan, Melayani dengan Integritas, dan Berkarya dengan Bertanggung Jawab”.
Tema tersebut menegaskan bahwa pendidikan tidak berhenti ketika mahasiswa memperoleh gelar akademik. Ilmu yang dipelajari harus terlihat dalam karakter, pelayanan, pekerjaan, dan tanggung jawab para lulusan di tengah masyarakat.

Ketua STT Paulus Medan, Dr. Adolfina E. Koamesakh, M.Th., M.Hum., menyampaikan rasa syukur atas perkembangan yang dicapai institusi, termasuk dalam peningkatan mutu dan proses akreditasi perguruan tinggi.
Perkembangan tersebut juga mencakup program studi S1 Teologi, S1 Pendidikan Agama Kristen, S2 Pendidikan Agama Kristen, dan S2 Teologi.
Menurut Adolfina, akreditasi tidak boleh dipandang hanya sebagai pencapaian administratif. Akreditasi harus menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk menjaga kualitas pendidikan, proses pembelajaran, tata kelola, serta tanggung jawab kepada mahasiswa dan masyarakat.
Gelar Membawa Tanggung Jawab
Dalam pesannya kepada para wisudawan dan wisudawati, Adolfina mengingatkan bahwa gelar akademik bukan sekadar hak istimewa. Gelar juga membawa tanggung jawab yang harus diwujudkan setelah lulusan meninggalkan kampus.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak selalu menilai seseorang berdasarkan transkrip nilai atau prestasi akademiknya.
“Masyarakat mungkin tidak pernah membaca transkrip akademik saudara. Mereka mungkin tidak mengetahui berapa nilai saudara dalam mata kuliah teologi, hermeneutika, pendidikan, filsafat, atau metodologi penelitian. Tetapi mereka akan membaca kehidupan saudara,” ujar Adolfina.
Menurutnya, masyarakat akan melihat cara seorang lulusan bekerja, memperlakukan orang lain, menggunakan kewenangan, menghadapi persoalan, serta mengambil keputusan ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Karena itu, para lulusan diajak tidak hanya bertanya mengenai tempat mereka akan melayani.
Pertanyaan yang lebih penting adalah mengenai pribadi seperti apa yang akan mereka tunjukkan ketika menjalankan pelayanan.
Adolfina menilai pelayanan tanpa integritas dapat kehilangan makna. Pengetahuan tanpa kerendahan hati juga dapat melahirkan kesombongan.
Kepemimpinan tanpa karakter dapat berubah menjadi dominasi. Sementara itu, teologi yang tidak diwujudkan dalam kehidupan dapat kehilangan daya kesaksiannya.
Kesetiaan dalam Kehidupan Sehari-hari
Merujuk pada 1 Tesalonika 4:11–12, Adolfina menekankan bahwa kehidupan yang terhormat tidak selalu ditentukan oleh tingginya jabatan atau luasnya ruang pelayanan.
Kehormatan juga dapat terlihat dari kesetiaan seseorang dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, menyelesaikan tanggung jawab, dan hidup dengan baik di tengah masyarakat.
Ketua STT Paulus Medan juga menyampaikan penghargaan kepada orang tua dan keluarga wisudawan yang telah mendukung perjalanan pendidikan para lulusan.
“Di balik seorang wisudawan selalu terdapat orang-orang yang ikut berjuang, orang tua yang berdoa, keluarga yang mendukung, dan mereka yang mungkin berkorban dalam diam agar hari ini dapat terjadi,” katanya.
Apresiasi juga diberikan kepada para dosen dan tenaga kependidikan yang telah mendidik, membimbing, mengoreksi, dan mendampingi mahasiswa sampai menyelesaikan pendidikan.
Adolfina kemudian menyampaikan tiga pesan utama kepada para lulusan. Pengetahuan harus membuat seseorang kompeten. Karakter harus menjadikan seseorang dapat dipercaya. Pelayanan harus membuat Kristus semakin nyata melalui kehidupan.
“Hari ini saudara memperoleh gelar. Besok dunia akan melihat kehidupan saudara. Pergilah, belajarlah terus, berpikirlah dengan jernih, hiduplah dengan integritas, layanilah dengan kerendahan hati, dan dalam setiap tanggung jawab yang Tuhan percayakan, hiduplah secara terhormat,” pesannya.
Lulusan Diminta Siap Memasuki Ladang Pelayanan
Dalam rangkaian Wisuda ke-20 STT Paulus Medan, khotbah disampaikan oleh Pdt. Thomson Siallagan, M.Pd.K., M.Th.
Ia menekankan bahwa berakhirnya masa pendidikan menjadi awal bagi para lulusan untuk memasuki berbagai bidang pelayanan.
Menurut Thomson, para lulusan akan kembali ke gereja, lembaga pendidikan, masyarakat, dan berbagai ruang pengabdian lainnya.
Karena itu, gelar akademik harus dipahami sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih luas.
Para lulusan diminta menjalankan pelayanan dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa.
Ilmu Harus Bermakna bagi Sesama
Sementara itu, Pdt. Dr. Ivo Christiana Siregar, M.M., M.Th., dalam orasi ilmiahnya mengajak para wisudawan kembali memikirkan tujuan memiliki ilmu.
Menurut Ivo, ilmu dapat membangun kemampuan seseorang. Namun, ilmu baru memperoleh makna sosial ketika kemampuan tersebut digunakan untuk melayani sesama.
“Ilmu membuat seseorang mampu melakukan sesuatu, sedangkan pelayanan membuat kemampuan itu bermakna bagi sesama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kehormatan seorang berilmu tidak hanya diukur dari gelar atau reputasi akademik.
Kehormatan juga terlihat dari kesediaan seseorang menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk membantu serta melayani orang lain.
Kementerian Agama Ingatkan Lulusan untuk Mengabdi
Pj. Kabid Bimas Kristen Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Syafrizal Bancin, M.M., turut menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati.
Ia mengingatkan agar para lulusan tidak menjadikan ijazah hanya sebagai modal untuk mencari pekerjaan atau mengembangkan karier.
Ilmu yang diperoleh selama pendidikan harus dipertahankan, dikembangkan, dan digunakan untuk mengabdi kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut juga ditegaskan peran Kementerian Agama sebagai mitra komunitas agama di Indonesia, termasuk perguruan tinggi keagamaan Kristen.
Para lulusan STT Paulus Medan diharapkan ikut membangun kehidupan beragama, meningkatkan integritas dan dedikasi, serta menjaga nama baik almamater.
Doktor Teologi Raih Predikat Sangat Memuaskan
Pada Wisuda ke-20 STT Paulus Medan, program Doktor Konsentrasi Teologi meluluskan Tambok Tua Simanullang dari Gereja Kristen Setia Indonesia atau GKSI.
Dr. Tambok Tua Simanullang, M.Th. menyelesaikan disertasi berjudul “Komparasi Perspektif Teologis Praktis Paulus tentang Penderitaan dalam Corpus Pauline dengan Para Pendeta Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) di Indonesia Tahun 2026.”
Ia meraih predikat kelulusan sangat memuaskan.
Pada program magister, Vera Viveriani Verry Colona Marpaung, M.Th., asal Gereja HKBP, menyelesaikan tesis berjudul “Pewarisan Iman Lintas Generasi Berdasarkan Mazmur 78 dan Implikasinya pada Keluarga Jemaat HKBP Medan Sudirman.”
Anton Sembiring, M.Th., asal Gereja Katolik, mengangkat tesis “Internalisasi Spiritual Don Bosco dalam Pelayanan Guru di SMP Budi Murni 4 Medan.”
Sementara itu, Robert P. Sitinjak, M.Th., asal Gereja HKBP, menulis tesis “Teologi Kontekstual tentang Pengampunan, Eksegesis Matius 18:21–35 dan Konstruksi Model Pengampunan Autentik bagi Mahasiswa Semester 8 STT Paulus Medan Tahun 2026.”
Santyani Debriani Lekalong, M.Pd., asal Gereja GMIT, mengangkat tesis “Spiritual Komunal dalam Budaya Papua, Relevansinya bagi Etika Hidup Ikatan Mahasiswa Papua Kristen di Era Digital.”
Fitria Simanjuntak, M.Pd., asal Gereja GPdI, menyelesaikan tesis “Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Pembentukan Etika Generasi Z di SMA Negeri 1 Perguruan, Tinjauan Efesus 4:20–32.”
Adapun Gold Dame Simbolon, M.Pd., asal Gereja HKBP, menulis tesis “Perancangan Model Pendidikan Agama Kristen Berbasis Kearifan Lokal Dalihan Natolu dalam Budaya Batak Toba untuk Membangun Identitas Iman yang Inklusif di SMP Negeri 3 Perburuan.”
STT Paulus Medan juga mewisuda lulusan program sarjana dari Program Studi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen.
Janji Alumni dan Pesan Orang Tua
Dalam rangkaian acara, sambutan mewakili orang tua wisudawan disampaikan oleh Pdt. Mangiring Nainggolan.
Sementara itu, pembacaan janji alumni dipimpin oleh Johannes Rindu Berkat Hutabalian, S.Pd.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari pelepasan para lulusan sebelum mereka kembali ke lingkungan gereja, pendidikan, masyarakat, serta berbagai bidang pelayanan lainnya.
Wisuda ke-20 STT Paulus Medan akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni pemberian gelar.
Para lulusan membawa pesan bahwa ilmu perlu berjalan bersama karakter. Gelar harus diikuti tanggung jawab. Pelayanan juga harus dilakukan dengan integritas dan kerendahan hati.
Setelah proses pendidikan selesai, ukuran keberhasilan para lulusan tidak hanya terletak pada gelar yang ditulis di belakang nama. Masyarakat akan melihat bagaimana pengetahuan, karakter, dan nilai yang diperoleh selama pendidikan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. (Red/Hery Buha Manalu)



