BerandaBerita/DaerahMedia Sosial Harus Jadi Ruang Publik yang Santun

Media Sosial Harus Jadi Ruang Publik yang Santun

Kopi Times – Ketua Umum Pemuda Batak Bersatu (PBB), Lambok F. Sihombing, S.Pd., MM, mengajak masyarakat, terutama generasi muda, menggunakan media sosial secara bijak, beretika, dan bertanggung jawab.

Menurut Lambok, perkembangan teknologi dan media sosial kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, kemudahan menyampaikan pendapat di ruang digital harus tetap disertai moral, sopan santun, dan tanggung jawab.

Lambok mengingatkan bahwa media sosial merupakan ruang publik. Karena itu, kebebasan berbicara tidak boleh digunakan untuk menghina, mencaci, mempermalukan, atau menyerang orang lain.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

“Media sosial adalah ruang publik. Karena itu, kebebasan berbicara harus tetap disertai dengan etika, tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama,” ujar Lambok.

Ia menilai keberadaan layar dan jarak dalam komunikasi digital tidak boleh membuat seseorang mengabaikan batas kepantasan dalam berbicara.

Menurutnya, perilaku orang dewasa di media sosial juga dapat menjadi contoh bagi anak-anak dan generasi muda. Apa yang mereka lihat setiap hari dapat memengaruhi cara mereka memahami perilaku di ruang publik.

“Anak-anak kita sedang belajar dari apa yang mereka lihat. Kalau setiap hari mereka melihat orang dewasa saling menghujat, berkata kasar, mempermalukan orang lain, menyebarkan informasi yang belum tentu benar, maka jangan heran apabila suatu saat perilaku tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal,” tegasnya.

Teknologi Harus Diikuti Penguatan Karakter

Lambok menilai kemajuan teknologi seharusnya berjalan beriringan dengan kemajuan karakter manusia. Teknologi yang semakin canggih, menurutnya, tidak boleh membuat moral dan etika justru semakin tertinggal.

Ia mengingatkan generasi muda agar tidak hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami pentingnya menghormati orang tua dan menghargai sesama.

Kemampuan menjaga perkataan, memahami batas kepantasan, serta membedakan informasi yang layak disampaikan di ruang publik juga dinilai penting.

“Jangan sampai generasi kita pintar menggunakan teknologi, tetapi tidak lagi mengerti bagaimana menghormati orang tua, menghargai sesama, menjaga perkataan, memahami batas kepantasan dan membedakan mana yang pantas disampaikan di ruang publik dan mana yang seharusnya tidak disampaikan,” katanya.

Orang Tua Punya Peran Penting

Lambok juga meminta para orang tua tidak hanya memberikan akses teknologi kepada anak-anak. Menurutnya, penggunaan telepon genggam, internet, dan media sosial perlu disertai pendidikan karakter dan pendampingan.

Anak perlu memahami bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara berkomunikasi secara santun dan menghormati orang lain.

Orang tua juga perlu mengajarkan anak untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya serta memahami tanggung jawab atas setiap unggahan.

“Anak bukan hanya perlu diajarkan bagaimana menggunakan telepon genggam, internet dan media sosial, tetapi juga harus diajarkan bagaimana berbicara dengan santun, menghormati orang lain, memeriksa kebenaran informasi dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka unggah,” jelas Lambok.

Kebebasan Berpendapat Tetap Memiliki Batas

Lambok menegaskan bahwa membangun budaya bermedia sosial yang sehat merupakan tanggung jawab bersama. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada pemerintah, sekolah, dan orang tua.

Menurutnya, organisasi masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, serta seluruh elemen masyarakat juga memiliki peran dalam membangun lingkungan digital yang sehat.

Ia juga menekankan bahwa kebebasan berekspresi tidak seharusnya dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas.

Perbedaan pendapat, kata Lambok, merupakan hal yang wajar. Kritik juga menjadi bagian dari kehidupan demokratis. Namun, kritik tidak harus disampaikan melalui penghinaan.

“Berbeda pendapat adalah hal yang wajar. Kritik juga merupakan bagian dari kehidupan demokratis. Tetapi kritik tidak harus disampaikan dengan penghinaan. Perbedaan pandangan tidak harus berujung pada permusuhan. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap harus saling menghormati,” ungkapnya.

Jangan Kejar Viral dengan Mengorbankan Moral

Lambok kemudian mengajak seluruh kader Pemuda Batak Bersatu dan masyarakat luas menjadi contoh dalam menciptakan ruang digital yang sehat, santun, dan bermartabat.

Ia berharap media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang baik, memberikan edukasi, memperkuat persaudaraan dan solidaritas, serta menyampaikan kritik secara konstruktif.

Lambok juga memberikan pesan khusus kepada generasi muda agar tidak menjadikan jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau viralitas sebagai ukuran utama dalam menggunakan media sosial.

“Jangan mengejar viral sampai kehilangan moral. Jangan mengejar perhatian sampai kehilangan harga diri,” pesannya.

Menurut Lambok, tidak semua hal yang dapat dilakukan di media sosial harus dilakukan. Pengguna media sosial perlu mempertimbangkan kepantasan, dampak, dan tanggung jawab sebelum menyampaikan sesuatu kepada publik.

Pesan tersebut menempatkan media sosial bijak bukan sekadar persoalan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga persoalan etika dan karakter dalam berkomunikasi. (Red/Bona)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini