Kopi Times – Ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi dan ketersediaan makanan. Dalam perspektif ketahanan nasional, pangan berkaitan dengan kemampuan sebuah negara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menjaga kemandirian nasional.
Perspektif tersebut menjadi salah satu bagian dari gagasan Firman Jaya Daeli mengenai pembangunan sistem ketahanan nasional dan pengembangan Lemhannas RI.
Daeli memasukkan kedaulatan pangan dan pertanian sebagai salah satu agenda penting dalam penguatan ketahanan nasional Indonesia.

Pangan berkaitan dengan ketahanan negara
Kebutuhan pangan menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Ketika pangan tersedia dan dapat dijangkau masyarakat, kehidupan sosial dan ekonomi memiliki fondasi yang lebih kuat. Sebaliknya, gangguan terhadap pangan dapat memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Karena itu, Daeli menempatkan kedaulatan pangan dan pertanian bersama dengan energi, sumber daya alam, serta air sebagai bagian dari agenda strategis pembangunan ketahanan nasional.
Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian Lemhannas terhadap kemandirian nasional. Pada Februari 2026, Lemhannas menyebut pangan, energi, air, pertahanan, dan ekonomi sebagai bidang penting dalam membangun kemandirian bangsa.
Ketahanan pangan tidak berdiri sendiri
Persoalan pangan memiliki hubungan dengan banyak sektor.
Pertanian membutuhkan air. Produksi membutuhkan energi. Distribusi membutuhkan infrastruktur. Petani membutuhkan akses terhadap teknologi dan pasar. Masyarakat membutuhkan harga yang dapat dijangkau.
Karena itu, membangun ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi.
Kebijakan pangan perlu memperhatikan hubungan antara petani, lahan, air, teknologi, distribusi, perdagangan, industri pengolahan, dan konsumen.
Pendekatan yang terintegrasi menjadi penting karena satu persoalan dapat memengaruhi persoalan lainnya.
Petani sebagai bagian penting
Pembahasan ketahanan pangan juga tidak dapat dipisahkan dari manusia yang menghasilkan pangan.
Petani merupakan bagian penting dari sistem pangan nasional. Karena itu, pembangunan pertanian membutuhkan perhatian terhadap produktivitas, teknologi, akses pasar, keberlanjutan sumber daya, dan kesejahteraan masyarakat pertanian.
Ketahanan pangan yang kuat pada akhirnya harus memberikan manfaat kepada masyarakat, bukan hanya meningkatkan angka produksi.
Teknologi membuka peluang baru
Perkembangan teknologi juga dapat digunakan untuk memperkuat ketahanan pangan.
Teknologi digital dapat membantu pengelolaan data pertanian, pemantauan produksi, distribusi, hingga akses informasi pasar.
Sementara teknologi pertanian dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan air, lahan, energi, dan input produksi.
Namun, teknologi bukan satu-satunya jawaban.
Teknologi harus berjalan bersama kebijakan yang tepat, sumber daya manusia yang mampu menggunakannya, serta perlindungan terhadap sumber daya alam.
Pangan dan geopolitik
Ketahanan pangan juga memiliki dimensi geopolitik.
Dalam lingkungan global yang saling terhubung, perubahan di satu kawasan dapat memengaruhi perdagangan, pasokan, harga, dan akses terhadap berbagai komoditas.
Karena itu, kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pangan masyarakat menjadi bagian dari kemampuan negara menghadapi perubahan eksternal.
Daeli memandang kedaulatan pangan sebagai salah satu bagian dari pembangunan Indonesia yang lebih mandiri.
Perspektif tersebut tidak berarti Indonesia harus menutup diri dari kerja sama internasional. Sebaliknya, kerja sama tetap diperlukan, tetapi kepentingan nasional dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat perlu menjadi pertimbangan penting.
Ketahanan pangan adalah investasi jangka panjang
Membangun ketahanan pangan membutuhkan waktu.
Pekerjaannya tidak berhenti pada peningkatan produksi satu musim panen. Dibutuhkan penguatan pertanian, sumber daya manusia, infrastruktur, teknologi, pengelolaan sumber daya alam, serta sistem distribusi.
Karena itu, ketahanan pangan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi ketahanan nasional.
Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan ekonomi dan geopolitik.
Bagi Daeli, penguatan ketahanan pangan pada akhirnya merupakan bagian dari agenda yang lebih besar: membangun Indonesia yang mampu berdiri kuat, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan menghadapi perubahan dunia dengan kemampuan nasional yang semakin matang. (Red/*)



