Oleh : Hery Buha Manalu
Ada sebuah masa ketika sebuah kota di Indonesia menjadi tempat bangsa-bangsa Asia dan Afrika berbicara tentang masa depan dunia.
Masa itu terjadi pada April 1955. Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika, sebuah peristiwa bersejarah yang mempertemukan negara-negara yang memiliki pengalaman panjang menghadapi kolonialisme dan sedang mencari jalan untuk membangun kehidupan internasional yang lebih adil.
Salah satu tempat terpenting dalam peristiwa tersebut adalah Gedung Merdeka di Jalan Asia-Afrika No. 65.

Konferensi berlangsung pada 18–24 April 1955 dan diikuti 29 negara. Para peserta datang dengan latar belakang politik, sistem pemerintahan, agama, dan kepentingan nasional yang berbeda.

Perbedaan itu tidak kecil. Dunia saat itu berada dalam ketegangan Perang Dingin. Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi dua kekuatan besar yang saling berhadapan. Sementara itu, sejumlah negara Asia dan Afrika baru memperoleh kemerdekaan atau masih berjuang melepaskan diri dari kolonialisme.
Dalam situasi seperti itu, Indonesia bersama negara-negara penggagas lainnya berusaha menciptakan ruang dialog.
Bandung menjadi ruang tersebut. Para pemimpin tidak datang semata-mata untuk berbicara mengenai kepentingan Indonesia. Mereka membawa persoalan yang jauh lebih luas: kolonialisme, perdamaian, kedaulatan, kerja sama ekonomi, kebudayaan, dan masa depan bangsa-bangsa yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan asing.
Di Gedung Merdeka, sejarah diplomasi Indonesia memperoleh salah satu momentum terbesarnya.
Presiden Soekarno melihat pertemuan tersebut bukan hanya sebagai konferensi biasa. Bandung menjadi simbol bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika memiliki suara dan berhak menentukan arah dunia.
Konferensi kemudian menghasilkan Dasasila Bandung, sepuluh prinsip yang antara lain menegaskan penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan dan integritas wilayah, persamaan bangsa dan ras, tidak melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri negara lain, serta penyelesaian perselisihan secara damai.
Warisan tersebut membuat Konferensi Asia-Afrika jauh lebih penting daripada sekadar peristiwa diplomatik tujuh dekade lalu.
Semangat Bandung ikut memperkuat solidaritas negara-negara Asia dan Afrika serta menjadi bagian penting dari perkembangan politik negara-negara berkembang.
Beberapa tahun kemudian, pada 1961, Gerakan Non-Blok lahir sebagai wadah negara-negara yang tidak ingin terseret menjadi bagian dari blok kekuatan besar dalam Perang Dingin.
Dari perspektif Indonesia, Konferensi Asia-Afrika juga memperlihatkan bahwa politik luar negeri bukan sekadar urusan diplomasi antarpemerintah.
Politik luar negeri dapat menjadi sarana untuk memperjuangkan nilai. Nilai tentang kemerdekaan. Kedaulatan. Persamaan. Perdamaian. Dan penghormatan terhadap bangsa lain.
Itulah sebabnya Gedung Merdeka memiliki kedudukan khusus dalam ingatan sejarah Indonesia.
Bangunan tersebut sebelumnya memiliki sejarah yang sangat berbeda. Ketika masih bernama Societeit Concordia, ia menjadi tempat berkumpul masyarakat Eropa dan bagian dari kehidupan sosial kolonial.
Namun, pada 1955, tempat yang sama menjadi panggung bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
Kontras tersebut mengandung pesan yang kuat. Sejarah dapat mengubah siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan, dan untuk siapa sebuah ruang digunakan.
Dari tempat hiburan elite kolonial, Gedung Merdeka kemudian menjadi tempat bangsa-bangsa yang pernah mengalami penjajahan menyuarakan kepentingan mereka sendiri.
Kini, lebih dari tujuh dekade setelah Konferensi Asia-Afrika, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana kita mengingat peristiwa tersebut.
Pertanyaannya adalah: apa yang masih dapat dipelajari dari semangat Bandung?
Dunia hari ini memang berbeda. Tantangannya pun berubah. Persaingan geopolitik, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, konflik, teknologi, dan persoalan kemanusiaan menghadirkan masalah baru.
Namun, kebutuhan untuk membangun dialog dan menghormati kedaulatan bangsa lain tetap relevan.
Karena itu, Gedung Merdeka seharusnya tidak hanya dipandang sebagai monumen masa lalu.
Ia dapat menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia pernah mengambil posisi penting dalam sejarah dunia.
Bandung pernah menjadi tempat ketika bangsa-bangsa yang sebelumnya sering diposisikan sebagai objek politik dunia berdiri sebagai subjek dan menyampaikan suara mereka sendiri.
Dan pesan terbesarnya masih sederhana: perbedaan tidak harus berakhir dengan pertentangan. Bangsa-bangsa dapat berbeda kepentingan, tetapi tetap dapat duduk bersama untuk mencari jalan menuju perdamaian.
Itulah warisan Bandung yang membuat Gedung Merdeka tetap penting untuk dikenang. (Red/*)



