BerandaKopiSeusai Wisuda, Semua Setara di Hadapan Kopi

Seusai Wisuda, Semua Setara di Hadapan Kopi

Kopi Times | Medan :
Acara wisuda akhirnya selesai. Toga sudah dilepas, foto bersama sudah entah berapa kali, ucapan selamat sudah bersahutan, dan senyum sejak pagi mulai berganti dengan wajah lelah.

Tetapi rasanya terlalu cepat kalau kebersamaan hari itu langsung diakhiri dengan pulang.

Apalagi wisuda bukan sekadar tentang menerima ijazah. Ada perjalanan panjang yang baru saja sampai pada salah satu titik penting.

Ada kenangan, tugas, diskusi, ujian, revisi, keluh kesah, bahkan mungkin ada cerita tentang dosen yang dulu membuat jantung berdebar ketika masuk ruang kuliah.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

Maka, selepas acara wisuda, Sabtu 26/9/2026 di Hotel Danau Toba International, Jalan Imam Bonjol No. 17, Medan, pilihan sederhana pun muncul.

Ngopi.

Bukan rapat. Bukan seminar. Apalagi ujian susulan.

Cukup duduk bersama, memesan kopi, lalu membiarkan percakapan mengalir sesukanya.

Kami memilih salah satu sudut untuk melepas lelah. Kopi tersaji di meja. Suasana formal yang sejak pagi melekat perlahan menghilang.

Tidak ada lagi podium.

Tidak ada yang berdiri sebagai pembicara dan yang lain menjadi pendengar.

Tidak ada pula yang sibuk bertanya siapa doktor, siapa magister, siapa sarjana, siapa dosen, siapa senior, atau siapa junior.

Duduk satu meja, tidak ada sekat antara siapa dan siapa. Kita setara. Kita sama di hadapan kopi.

Barangkali itulah salah satu keunikan ngopi bersama.

Secangkir kopi mampu membuat percakapan menjadi sederhana. Gelar akademik boleh panjang, tetapi ketika kopi sudah tersaji, pertanyaan yang paling penting justru sederhana.

Seusai Wisuda, Semua Setara di Hadapan Kopi
Seusai Wisuda, Semua Setara di Hadapan Kopi, Secangkir kopi mampu membuat percakapan menjadi sederhana. Gelar akademik boleh panjang, tetapi ketika kopi sudah tersaji, pertanyaan yang paling penting justru sederhana/foto : kopitimes

“Sudah pesan kopi?”

Lalu obrolan pun dimulai.

Awalnya masih berbicara tentang wisuda. Tidak lama kemudian pembicaraan berpindah ke pengalaman selama kuliah. Ada cerita tentang tugas yang dikerjakan sampai malam. Ada kenangan saat menghadapi ujian. Ada pula cerita tentang revisi yang terasa tidak pernah selesai.

Sekarang semuanya bisa diceritakan sambil tertawa.

Keluh kesah semasa kuliah yang dahulu terasa berat, seusai wisuda justru berubah menjadi kenangan.

Keakraban dan kebersamaan tumbuh di antara seruput kopi. Keluh kesah semasa kuliah perlahan menjadi cerita yang layak dikenang.

Obrolan kemudian bergerak semakin jauh.

Teologi ikut masuk ke meja kopi.

Kami berbicara tentang bagaimana teologi seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kuliah. Teologi perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, menyentuh manusia, kebudayaan, kehidupan sosial, dan berbagai persoalan nyata di tengah masyarakat.

Dari teologi, pembicaraan bergeser menuju kearifan lokal.

Cerita tentang tradisi, kehidupan masyarakat, nilai kebersamaan, penghormatan kepada sesama, dan kekayaan budaya ikut menghangatkan percakapan.

Sesekali pembicaraan terdengar serius. Beberapa menit kemudian semuanya tertawa lagi. Begitulah percakapan di meja kopi. Tidak ada moderator yang mengingatkan waktu. Tidak ada notulen yang sibuk mencatat kesimpulan.

Dan yang paling melegakan, tidak ada dosen yang tiba-tiba berkata, “Baik, sekarang silakan saudara jelaskan dasar teorinya.”

Kalau kalimat itu muncul, mungkin kopi yang tadinya manis mendadak terasa pahit. Namun sore itu bukan waktunya ujian. Sore itu adalah waktunya menikmati kebersamaan.

Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika orang-orang yang pernah menjalani perjalanan akademik bersama kembali duduk dalam suasana yang jauh lebih sederhana.

Wisuda memang menandai keberhasilan akademik. Namun perjumpaan setelahnya mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan juga meninggalkan persahabatan, pengalaman, perdebatan, kesalahan, pembelajaran, dan kenangan.

Semua itu tidak tercetak pada ijazah.

Tetapi tersimpan dalam ingatan.

Hari semakin berjalan. Kopi di dalam cangkir perlahan berkurang. Cerita justru semakin banyak.

Ada yang mengenang masa-masa sulit selama kuliah. Ada yang mulai berbicara tentang rencana setelah wisuda. Ada pula yang sekadar menjadi pendengar sambil menikmati kopinya.

Tidak semua percakapan harus menghasilkan kesimpulan.

Kadang manusia hanya membutuhkan ruang untuk duduk bersama.

Bercerita.

Mendengar.

Tertawa.

Dan mengenang perjalanan yang sudah dilewati.

Di meja kecil itu, wisuda terasa mendapatkan makna lain.

Hari itu bukan hanya tentang gelar baru yang disematkan di belakang nama. Ada persahabatan yang tetap perlu dirawat setelah toga disimpan. Ada ilmu yang harus dibawa kembali ke tengah masyarakat. Ada teologi yang perlu terus berdialog dengan kehidupan. Ada pula kearifan lokal yang tetap menarik untuk dibicarakan dan diwariskan.

Pada akhirnya, kopi sore itu mungkin akan habis.

Acara wisuda juga tinggal menjadi dokumentasi.

Toga akan kembali tersimpan di lemari.

Tetapi cerita tentang kebersamaan bisa bertahan jauh lebih lama.

Kelak, ketika kesibukan membawa setiap orang ke jalan masing-masing, mungkin ada kerinduan untuk kembali duduk seperti sore itu.

Tidak perlu acara resmi.

Tidak perlu undangan.

Cukup satu meja, beberapa kursi, teman-teman lama, dan secangkir kopi.

Karena setelah semua seremoni selesai, kami menemukan satu pelajaran sederhana.

Di meja kopi tidak perlu ada jarak antara siapa dan siapa. Tidak ada senior atau junior. Tidak ada gelar yang perlu dipertandingkan. Kita duduk bersama, bercerita bersama, tertawa bersama.

Kita setara. Kita sama di hadapan kopi.

Dan sore itu, keluh kesah semasa kuliah tidak lagi terdengar sebagai beban.

Ia telah berubah menjadi kenangan.

Kenangan yang kami abadikan bukan hanya lewat foto seusai wisuda, tetapi juga melalui cerita, tawa, keakraban, dan setiap seruput kopi di sudut Hotel Danau Toba, Medan. (Red/Hery Buha Manalu)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini